Unsur-unsur batin apakah yang dapat menjaga kepercayaan?

Print Friendly, PDF & Email

Bagian dari seri diskusi Bodhisattva’s Breakfast Corner mengenai kepercayaan

  • Penghargaan pada diri sendiri dan pertimbangan atas orang lain akan menjaga kita dari sikap mengkhianati kepercayaan
  • Sikap penuh kesadaran akan membantu kita mengingat sila, komitmen, dan arah yang ingin kita tuju dalam kehidupan

Unsur-unsur batin apakah yang dapat menjaga kepercayaan? (download)

10-09-12 What Mental Factors Protect Trust? – BBCorner

Saya pernah menceritakan kisah tentang seseorang yang memiliki masalah pernikahan karena mengkhianati kepercayaan pasangannya. Kita juga berkesimpulan bahwa permasalahan ini berhubungan dengan komunitas, ketika seseorang melakukan sesuatu yang melanggar sila atau aturan-aturan yang kita bentuk dalam komunitas, maka ini juga menyebabkan putusnya kepercayaan. Hal ini dikarenakan orang-orang akan mengambil langkah yang berbeda-beda. Semua orang melangkah menuju satu tujuan, sementara satu individu melangkah ke tujuan lain, seringkali dipenuhi kemelekatan dan kemarahan.

Kemelekatan

Ketika kita melihat situasi di mana kepercayaan telah hilang, seringkali ini disebabkan karena kemelekatan dan kemarahan. Kita melekat kepada seseorang–dalam kasus teman saya, ia melekat kepada orang lain dan melangkah ke arah lain bersama orang itu; atau kamu melekat kepada uang dan harta benda, kamu pergi mengejarnya. Ketika kemelekatan mengalihkanmu dari hal-hal yang sudah kamu putuskan, maka sering kali kita merasionalisasikan dan membenarkan apa yang kita lakukan, misalnya, saya tidak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang biasa dilakukan oleh orang lain.

Contohnya, jika seseorang menggelapkan uang dari perusahaan tempat mereka bekerja – itulah bentuk pengkhianatan kepercayaan. Atau, saya bisa mengatakan bahwa apa yang dikerjakan oleh para banker di Wall Street merupakan pengkhianatan kepercayaan. Jika kamu bertanya ke salah seorang bankir tersebut, saya yakin mereka tidak akan berkata, “saya berkhianat, atau saya menggelapkan dana atau saya mencuri,” karena tidak ada orang yang suka berpikir seperti itu tentang dirinya sendiri. Mereka akan mengatakan hal lain – mereka memiliki alasan untuk tindakan mereka : “ya, tentu saja saya bekerja sangat keras untuk perusahaan dan mereka tidak memberi imbalan yang sesuai, oleh karena itu sah-sah saja kalau saya mengambil sedikit uang lebih karena sesungguhnya saya berhak. Saya tidak menggelapkan dana”. Atau, “saya seorang bankir, saya mengetahui aliran keluar-masuk dalam sistem, dan saya bisa memanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan saya. Tidak ada yang illegal mengenai apa yang saya lakukan. Ini bukan kemelekatan, saya tidak melakukan kesalahan apapun”.

Rasionalisasi

Kita bisa melihat hal tersebut dalam diri kita sendiri, bukankah begitu? Kemarin kita membicarakan bagaimana ketika kita mengkhianati kepercayaan, kita selalu memiliki alasan, rasionalisasi dan justifikasi bahwa apa yang kita lakukan itu tidak terlalu buruk. Bukankah begitu? Hal ini terjadi pada setiap orang. Jadi kemelekatan adalah penyebab perilaku ini.

Kemarahan

Kemarahan juga bisa membuat kita berkhianat. Kita sangat marah pada seseorang yang dekat dengan kita atau bekerja bersama kita, sehingga kita ingin balas dendam, jadi kita menyakiti mereka. Mungkin dengan menyabotase proyek mereka, berbicara buruk tentang meraka secara diam-diam, mengkritik mereka, membuat semua orang di dalam kelompok menentang dia. Kita bisa marah dengan mudah kepada seseorang, terutama orang-orang yang terdekat, kemudian menciptakan jaringan kita sendiri untuk membuat orang berpihak pada kita serta menentang dan melukai orang yang sedang menjadi objek kemarahan kita. Hal ini juga merupakan bentuk pengkhianatan kepercayaan. Ketika kita melakukannya, kita tidak akan berkata, “saya adalah orang jahat yang bersenang-senang dengan cara membuat orang lain menderita”. Kita tidak akan mengatakan hal seperti itu kepada diri sendiri. Kita justru akan berkata, “tidak, itu salah mereka. Mereka melakukan hal itu terhadap saya. Saya hanya merespon dengan apa yang akan dilakukan setiap orang yang waras”. Bukankah begitu?

Kejujuran dan penuh kesadaran

Apa yang ingin saya sampaikan adalah betapa cerdiknya benak kita, dan bagaimana kita bisa dengan mudah mengkhianati kepercayaan dengan orang-orang yang sangat kita sayangi dan orang-orang yang paling berkaitan dengan kita, hanya karena kemelekatan dan kemarahan kita, karena kebutaan kita dalam proses tersebut. Ini berarti kita harus sangat, sangat berhati-hati mengenai apa yang terjadi di dalam benak kita. Kita juga harus sangat memperhatikan dan mengingat komitmen yang kita buat dengan orang lain, mengingat sila yang kita pegang, mengingat janji pernikahan, mengingat arah yang ingin kita tuju dalam kehidupan.

Dalam situasi teman saya, maka kita harus mengingat ikrar pernikahan, menyimpannya di dalam benak, serta menggunakannya untuk mengarahkan perilaku kita. Ketika kita melihat benak menginginkan sesuatu di luar ikrar, kita harus menggunakan sila untuk menahan tindakan fisik dan verbal. Kemudian kita harus melihat ke dalam benak, jujur kepada diri kita sendiri akan apa yang sesungguhnya terjadi. Kejujuran pada diri sendiri seperti ini sangat sulit, bukankah begitu? Inilah yang harus kita lakukan.

Kesadaran Introspektif

Semakin kita mampu memiliki kejujuran pada diri sendiri serta kesadaran introspektif, yaitu kesadaran yang tahu apa yang kita lakukan, pikirkan dan rasakan, kemudian semakin kita penuh kesadaran akan komitmen dan sila, semakin besar dua unsur ini hadir di benak kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mencegah kegiatan-kegiatan yang dapat menghilangkan kepercayaan.

Terdapat dua unsur batin lain yang harus kita latih dan kembangkan untuk membantu kita menjaga kepercayaan. Unsur pertama disebut rasa integritas, dan disinilah kita meninggalkan hal-hal yang merusak atau tidak produktif dikarenakan rasa penghormatan kepada diri sendiri. Contohnya, saya tidak ingin menjadi orang yang melakukan hal buruk itu. Saya melihat ke dalam benak saya sendiri, dan hanya dalam sekejap mata, saya bisa berubah menjadi orang yang melakukan hal buruk. Namun saya benar-benar tidak ingin menjadi seperti itu, karena saya memiliki rasa penghormatan diri, rasa integritas akan diri saya sendiri, jadi saya tidak akan terpuruk ke jalan tersebut. Unsur batin seperti inilah yang akan membantu kita menahan diri.

Pertimbangan atas orang lain

Unsur batin yang kedua adalah pertimbangan atas orang lain – berpikir atas dampak tindakan kita terhadap orang lain. Ini adalah unsur batin yang hadir di benak teman saya ketika istrinya mengetahui apa yang sedang terjadi. “Oh tidak, sekarang aku mengerti apa yang aku lakukan terhadap istriku dan bagaimana aku telah membuatnya menderita”. Jika unsur batin ini lebih kuat pada awalnya, ketika pria itu menyadari ia tertarik kepada wanita lain, ia akan mampu mengatakan, “Aku peduli terhadap istriku, dan hubungan ini sangat penting, dan aku tidak ingin melukai perasaannya. Aku tidak ingin mengkhianati kepercayaan dan mengakhiri pernikahan ini.”

Unsur-unsur batin yang sudah hadir dalam diri kita

Kita tahu bahwa seluruh unsur batin tersebut telah hadir di dalam diri kita, namun unsur-unsur ini cenderung tidak dikembangkan dengan baik. Akibatnya, kita terus-menerus mengikuti jalan kemelekatan dan kemarahan yang sudah kita kenal dengan baik. Penuh kesadaran, kesadaran introspektif, mengecek apa yang terjadi di dalam benak, integritas personal, pengertian akan orang lain; jika kita dengan sengaja mengembangkan kondisi-kondisi ini dalam kehidupan sehari-hari serta dalam meditasi, maka mereka akan membantu mencegah kejatuhan kita dalam kemelekatan dan kemarahan. Pengembangan unsur-unsur batin ini juga mencegah karma, yang kemudian mencegah permasalahan dalam kehidupan ini, dan juga mencegah kelahiran di alam bawah, dan mencegah adanya halangan di benak yang menghalangi kita untuk meraih pembebasan.

Terkadang kita mendengar ajaran mengenai moralitas dan etika perilaku, dan ajaran tersebut terdengar jauh dan tinggi, berada di luar sana. Namun ketika kita membicarakan pengkhianatan kepercayaan, maka ajaran tersebut lebih bermakna di dalam hati, bukankah begitu? Kita semua pernah mengkhianati kepercayaan, dan kita telah dikhianati, sehingga kita semua tahu seperti apa rasanya. Dengan mengetahui rasanya, maka kita tidak ingin melakukan hal tersebut kepada orang lain. Ini kemudian menjadi pendorong untuk kita benar-benar menumbuhkan kondisi-kondisi batin yang positif, dan menjaga sila kita dengan baik, karena sila dan aturan-aturan yang ada dalam komunitas bertujuan untuk membantu kita.

Lima sila

Kelima sila untuk umat awam yang memiliki keluarga–jika setiap orang menjaga lima sila, maka kehidupan mereka akan semakin berbahagia! Pihak yang merasakan dampaknya bukan hanya pasangan suami-istri, namun juga anak-anak serta ipar dan mertua. Semua orang terpengaruh jika hal seperti ini terjadi. Cobalah untuk memikirkan kejadian seperti ini.

Saya rasa inilah yang membuat Buddhadharma begitu indah. Buddhadharma menunjukkan pada kita kondisi batin mana yang harus diperkuat; tindakan-tindakan apa yang harus diperbaiki dan tidak boleh dilakukan; bagaimana mengatur latihan meditasi harian sehingga kamu bisa lebih awas mengenai apa yang terjadi di dalam dirimu sendiri. Buddhadharma sangat membantu dan meningkatkan kualitas kehidupan kita, saat ini juga, dan di masa yang akan datang.

English version: What mental factors protect trust?

Find more on these topics: , , , , , , , ,