Bebas dari Ketakutan

Sebuah Perlindungan dari Bhagawati Arya Tara

Print Friendly, PDF & Email
Cover for Bebas dari Ketakutan - How to Free Your Mind in Indonesian

Klik disini untuk informasi lebih lanjut

Arya Tara, perlambang aktivitas tercerahkan, adalah sesosok makhluk agung dengan kemampuan membebaskan semua makhluk dari ketidaktahuan, kemelekatan, dan kebencian yang membuat mereka terjebak dalam pola negatif yang berulang terus-menerus. Beliau melakukan ini dengan mengajarkan cara untuk menumbuhkembangkan cinta kasih, welas asih, kesabaran, kebijaksanaan, dan semua kualitas positif lainnya yang diperlukan dalam keseharian kita.

Terlepas dari asal-usulnya yang sepertinya lebih dekat ke Tibet atau India, beliau sebenarnya punya hubungan dekat dengan Indonesia. Di Yogyakarta, Candi Kalasan didirikan sebagai mandala bagi Arya Tara sekaligus sebagai objek ibadah dan perlindungan kerajaan. Candi Jago di Malang memiliki arca Ksamatara dan Brkutitara, yang merupakan salah satu dari perwujudan Arya Tara. Sebagai tambahan, kita tahu bahwa di berbagai tempat di Nusantara, pemujaan kepada Dewi Sri yang dikaitkan dengan tanaman padi dikenal secara luas. Dewi Sri ini, atau Nyai Pohaci bagi orang Sunda, tak lain daripada perwujudan Arya Tara juga, sebagai Wasundhari atau sang pemberi kemakmuran. Bahkan jika kita ingin menariknya lebih jauh, alur berkembangnya ajaran Buddha di tanah Tibet tak bisa dilepaskan dari saran Arya Tara kepada Jowo Atisha untuk berguru pada seorang guru besar nun jauh di seberang lautan sana, tepatnya: di negeri Sriwijaya ñ di Indonesia.

Untuk semua alasan inilah maka penerbitan sebuah buku tentang praktik Arya Tara bagi pembaca Indonesia menjadi sesuatu yang masuk akal, bahkan niscaya. Terlebih lagi, pemaparan halaman-halaman dalam buku ini tidak secara eksklusif ditujukan bagi umat Buddhis. Individu mana pun yang sekadar tertarik untuk mengatasi emosi-emosi negatif dalam dirinya ñ kemarahan, iri hati, kemelekatan, dsb ñ atau memahami hakikat hidup di dunia fana sangat disarankan untuk membaca buku ini.

Kata Pengantar untuk Edisi Bahasa Indonesia

Hormat kepada Tara yang cepat dan tanpa rasa gentar, dengan mata seperti halilintar, yang terlahir dari teratai di dalam samudra air mata Awalokiteshwara, pelindung dari ketiga dunia.
~ Dari “Penghormatan kepada 21 Tara”

Makhluk tercerahkan, Tara, dikatakan terlahir dari air mata Awalokiteshwara, Buddha Welas Asih. Legenda mengatakan bahwa Awalokiteshwara bekerja dengan tekun untuk membebaskan semua makhluk dari alam neraka. Setelah beristirahat sejenak, beliau menemukan bahwa neraka kembali dipenuhi oleh makhluk-makhluk. Tara lahir dari salah satu air matanya untuk menyemangatinya, sembari berujar, “Jangan putus asa. Aku akan membantumu membebaskan semua makhluk.”

Mungkin ini adalah pertanda yang menguntungkan, bahwa 3 tahun setelah menerbitkan Cultivating a Compassionate Heart: The Yoga Method of Chenrezig, Penerbit Kadam Choeling kini juga bergerak untuk menerbitkan How to Free Your Mind: The Practice of Tara the Liberator ke dalam edisi bahasa Indonesia. Adalah harapan saya bahwa seperti halnya Tara muncul untuk mendukung Awalokiteshwara dalam membebaskan semua makhluk, penerbitan buku ini juga akan mendukung berkembangnya ajaran kebijaksanaan dan welas asih dari Buddha di tanah Indonesia.

Meskipun mengalami kemerosotan di Indonesia setelah abad ke-15, Buddhadharma telah menjalani kebangkitan pada abad ke-20 dan 21 berkat keyakinan, dedikasi, dan cara-cara terampil dari para praktisi, baik biksu maupun umat awam. Saya ingin memuji Kadam Choeling Indonesia atas upaya sinambung mereka dalam mendidik dan mendukung praktisi Buddhis Indonesia untuk memahami dan memadukan Dharma ke dalam budaya dan kehidupan harian mereka. Agar ajaran Buddha bisa terus menyebar dan berkembang di Indonesia, adalah penting untuk menyediakan dan menyajikan ajaran bertahap tentang praktik Buddhis dan tahapan jalan menuju pencerahan yang sesuai dengan pemahaman pembaca Indonesia.

Selain menjamin ketersediaan ajaran Buddha bagi pihak lain, penting sekali bahwa kita semua juga memupuk benih-benih Dharma di dalam batin kita dengan mempelajari dan mempraktikkan mereka secara rajin. Meskipun kita bisa saja terinspirasi oleh keindahan Borobudur dan peninggalan luar biasa lainnya dari kerajaan Sriwijaya, mereka semua juga menjadi pengingat yang ampuh ihwal ketidakkekalan. Kita semua – majelis yang terdiri dari biksu, biksuni, umat awam pria, dan umat awam wanita – memiliki hak dan kewajiban untuk terus-menerus menciptakan sebab-sebab bagi bertahannya ajaran Buddha di dunia demi semua makhluk.

Find more on these topics: ,